Tuesday, February 7, 2012

Ibu

Ibu saya (saya panggil ama) sangat suka menelpon. Sangat amat suka. Dalam seharian, hp tidak pernah lepas dari tangan. Siapa saja yang ditelpon? Bukan klien bisnis saudara-saudara, melainkan hanya keluarga dan teman-teman. Yeah, my mom reeaaalllyyy loves to talk. Dan sebagai anak sulung, saya lah yang paling sering mendapat panggilan dibandingkan adik saya satu-satunya. Selain karena dia paling malas menjawab telpon, sepertinya ama menganggap si adik bukanlah lawan bicara yang asik. Beda kalau dengan saya, ama bisa curhat apa saja, saya pun begitu. Saking seringnya saya ditelpon ("sering" ini menurut teman-teman ya), ketika masih kuliah di Padang, teman-teman akan bertanya "ama belum nelpon?" jika melihat saya tidak mengangkat telpon hari itu. Kebiasaan ini membuat saya tidak bisa menyembunyikan apapun dari orang tua. Mulai dari masalah air mati di kosan, sampai berantem dengan pacar atau baru saja beli underwear baru (sumpah, saya memang nggak jelas gitu :D ). Si ama pun begitu. Pulang sekolah laporan siapa aja muridnya yang bandel, temennya yang bikin sakit hati (ujung-ujungnya gosip kalau begini) atau sekedar laporan hari itu capek masak jadi mau beli makanan di luar. Yeah, we are that kind of (I don't know hot to call it,hahahaha). What I know, I can't hide anything from that powerful, wonderful lady.

Dan ketika saya menyimak kasus tabrakan tugu tani, saya tiba-tiba merasa, entah lah, mungkin miris tepatnya. Dalam salah satu wawancara dengan tabloid, si ibu dari tersangka Apriani menyatakan ketidak percayaannya kalau si anak mengkonsumsi narkoba. Dia pun membantah kalau anaknya suka hura-hura. Saya memang tidak tau yang sebenarnya, apakah si ibu tau yang sebenarnya atau memang tidak sama sekali. Kalaupun tau, saya maklum kenapa dia berbuat begitu, seorang ibu pasti ingin melindungi anaknya. Tapi seumpamanya si ibu memang tidak tau sama sekali, alangkah besarnya penipuan yang telah dialami oleh si ibu. Karena menurutnya, si anak selama di rumah tidak sekalipun melakukan perbuatan tercela. Bahkan tergolong alim. Saya tidak ingin berburuk sangka, hanya tidak sampai hati melihat penderitaan yang ditanggung si ibu. Anak di penjara (karena menghilangkan banyak nyawa), masyarakat menghujat, lalu mestikah ditambah dengan kenyataan baru bahwa si anak pecandu narkoba?? 

Saya bukan pula seorang anak yang tanpa cela. Saya pernah mengecewakan orang tua. Tapi dengan berterus terang pada orang tua, saya jadi bisa memahami kesalahan yang telah diperbuat. Menyembunyikan dari orang tua (terutama ibu karena beliau yang paling dekat dengan saya) justru membuat runyam masalah. Kita boleh saja merasa cuek, tidak peduli dengan anggapan orang, tapi ingat lah kita punya orang tua. Yang karena tua nya, cueknya tidak lagi setebal kita yang muda, telinga nya tidak lagi se "tuli" kita. Dan ingat, kita adalah cerminnya!!

No comments:

Post a Comment