Monday, December 19, 2011

Niat Nggak Niat

Niat, adalah sebuah kata yang sederhana, terdiri hanya dari empat huruf dan hurufnya nggak susah-susah amat (ya iya lah,memangnya anak belajar ngomong). Lalu apa permasalahan yang ada pada niat ini? Cuma satu saudara-saudara, yaitu: MEREALISASIKANNYA. Catet!!
Bahkan niat paling sederhana sekalipun banyaaaaakkk sekali godaan untuk melaksanakannya. Orang-orang bilang, berarti belum niat kalau belum bisa direalisasikan. Tapi saya kurang setuju. Karena kalau demikian halnya, maka niat akan tidak berbeda dengan keinginan semata, di mana tiba-tiba kita ingat sesuatu lalu ingin melakukannya.

Menurut teori bodoh-bodoh saya, yang namanya niat itu tidak hanya didasari ingin tapi juga didasari suatu kebutuhan, lalu timbul lah niat untuk melakukan atau membeli atau makan sesuatu (yang terakhir ini khusus bagi manusia pemakan segala seperti saya :D

Nah, mungkin karena datangnya dari hati (bukan dari mata seperti "keinginan") maka melaksanakan niat menjadi perkara yang tidak mudah. Seperti yang kita ketahui, kalau sudah masuk urusan hati atau perasaan, maka akan banyak persoalan, banyak pertimbangan yang kadang tidak penting sebenarnya. Mirip-mirip perkara muda-mudi kali ya,kalau sudah masalah perasaan maka logika kadang nggak jalan. #eeeaaaa
Kayaknya saya ngelantur ya?? Maybe. Tapi saya sedang bingung dengan diri sendiri. Niat untuk melangsingkan diri sudah ada sejak lama. Niat ini  juga untuk kebaikan umat lho, yaitu agar saya sedap dipandang,ha ha ha ha.

Tapi entah mengapa, salah satu tindakan sederhana untuk merealisasikan niat tersebut, yaitu beli sepatu olah raga belum juga terlaksana sampai sekarang. FYI, saya sudah memikirkan hal ini selama tiga hari, sudah meriset tempat membelinya (yang syaratnya murah tapi bagus :D) dan sudah membuat janji aerobik dengan teman Rabu besok. Tapi lagi-lagi niat tulus ini dikalahkan oleh hujan, ngerumpi dengan teman dan browsing barang-barang untuk proyek jualan online. See?? I have plenty excuses.
Karena itu,malam ini saya berniat, seniat-niatnya untuk membeli sepatu itu, sebelum ukuran untuk kaki istimewa saya ini habis (FYI kaki saya nggak beda jauh ukurannya sama anak kelas V SD).
Jadi saudara-saudara, tunggu kelanjutan cerita saya besok. Semoga dengan sepatu olah raga yang baru, yiippii :)

Friday, December 16, 2011

Rindu "Air Mata Ibu" dan "Saat Memberi Saat Menerima"

kampungtki.com
Ada yang tau dua kata dalam tanda petik di atas? Peribahasa? Bukan! Itu adalah dua judul sinetron tahun 90an (saya lupa pastinya,tapi kalau tidak salah booming jaman saya SD). Judul pertama dibintangi oleh Gunawan dan Raslina Rasidin, sedangkan judul kedua dibintangi Desi Ratnasari dan Elma Theana. Nggak kenal?? Berarti kamu yang baca kemudaan :D

Dua judul di atas merupakan sinetron kesukaan semua umat pada jamannya. Ditunggu jam tayangnya, karena tidak diputar 7xseminggu, alias setiap hari. Diresapi makna ceritanya karena ada pesan di dalamnya. Kenapa saya tiba-tiba membicarakan sinetron?? (sepertinya blog ini akan sangat random nantinya,hahaha)

Alasan saya membahas sinetron tidak lain dan tidak bukan adalah kejenuhan saya, kalau tidak bisa dibilang muak, dengan tayangan sinetron jaman sekarang. Sebagai lajang yang tinggal dengan orang tua (jiiaahh,istilahnya euy) televisi adalah pusat gravitasi berkumpulnya keluarga, terutama malam hari. Dan berhubung saudara saya satu-satunya adalah seorang bujang palala, maka otomatis saya lah yang hampir setiap malam menemani ama dan amak menonton tv (baca:sinetron) setiap malam. Sungguh suatu rasa yang sulit diungkapkan saudara-saudara!

Sinetron jaman sekarang, menurut hemat saya, tidak menyuguhkan apa-apa. Tidak ada cerita yang menarik, tidak ada kualitas akting yang membuai. Saya memang bukanlah seorang pengamat seni peran untuk menilai kualitas seorang aktris atau aktor, juga bukan seorang yang kompeten untuk menilai skenario yang telah dipersiapkan utk beratus-ratus episode. Namun, apabila  penonton merasa tontonan tersebut tidak lagi menghibur atau menyuguhkan sesuatu yang menarik, bukan kah berarti ada yang salah dengan suguhannya???

Cerita sinetron jaman berputar dalam tiga topik. Pertama, laki-laki/perempuan kalangan bawah ketemu jodoh yang kebetulan dari kalangan atas, maka timbul lah mantan tunangan yang benci setengah mati atau keluarga yang menentang habis-habisan. Kedua, kisah cinta indah yang tak terbayangkan tapi tiba-tiba saja amburadul karena ada orang ketiga yang muncul bagai netes dari kran,eh! Lalu terjadi lah dramatisasi dalam artian sebenarnya (untuk rincinya sekali-sekali silahkan tonton ya teman-teman,kalau mau ditulisin bakal paaaaaannnjaaaaaaannngggg). Dan yang ketiga adalah, ini yang paling tren sekarang, adalah anak yang tertukar, lalu tertukar lagi, eh lalu tertukar lagi deh. Lieur, kata orang Sunda.

Singkat kata singkat cerita, sinetron sekarang penuh dengan air mata (yang mengalir bagai air kran tapi hebatnya mata si aktris tidak pernah bengkak), lalu tatapan sinis ala tante-tante judes yang perlu latihan maksimal agar bisa meniru alis yang terangkat sebelah. Dan tidal lupa, timbul lah seribu satu muslihat dan tipu daya untuk menganiaya tokoh utama dalam cerita.

Di titik ini lah saya merindukan cerita-cerita keluarga yang diangkat ke dalam skenario sinetron jaman 90an. Ada kisah perjuangan seorang janda dalam menjalani hidup. Susahnya membesarkan anak, segala label negatif yang melekat pada status janda. Intinya, berusaha hidup dan bangkit secara manusiawi.

Lalu ada kisah rumah tangga yang pecah karena campur tangan mertua. Bagaiman anak menjadi korban perceraian orang tua. Dan bagaimana mereka dengan cinta tulus dan polosnya tingkah anak-anak berusaha menyatukan orang tua mereka kembali. Menyentuh dan menyentak. Dan tidak lupa, ada keluarga Si Doel dan keluarga Cemara yang mencoba menunjukkan apa itu keluarga dan permasalahannya.

Pokoknya, tidak ada itu cerita yang mengada-ada. Yang walaupun jadi orang miskin tapi tetap pakai bulu mata palsu.

#psst, beda lagi lho kalau sinetron korea ;) kapan-kapan dibahas
 Kalau kamu, suka nonton apa?

Thursday, December 15, 2011

Jadi Guru (akhirnya)

http://lifiavyou.files.wordpress.com/2011/08/guru21.jpg
Walaupun sudah mendapat penambahan S.Pd pada akhiran nama sejak Maret 2011 (yang merupakan waktu yang sangat telat dari semestinya), gelar itu belum pernah digunakan sebagai mana mestinya. Dengan adanya kesempatan membuka usaha seperti yang diinginkan, gelar tersebut bahkan belum pernah dicantumkan di akhir nama.

Tapi sepertinya Tuhan (juga) memberi kesempatan untuk menggunakan gelar tersebut dalam pekerjaan yang baru. Pekerjaannya? Ya tetap jadi guru. Tapi kali ini, saya harus mengingat kembali semua pelajaran tentang pengelolaan kelas, penyusunan perangkat pengajaran dan lain-lain. Karena kali ini saya akan mengajar di sebuah sekolah formal, bukan lagi di tempat les yang sedang dikelola. Apakah ini yang disebut mengajar sesungguhnya? Mengajar di sebuah sekolah formal? Mungkin. Karena sekarang, semua poin penting dalam mata kuliah perkembangan peserta didik akan terlihat realisasinya. Semua contoh kasus yang pernah diceritakan dosen akan ditemui dalam bentuk kejadian sehari-hari. Cemas? I do, a little bit. Bukannya tidak bersyukur, tapi sekolah tempat saya akan menjalani semua proses belajar mengajar sekarang ini bukan lah jenis sekolah yang mudah untuk dimasuki. Bukan dalam artian susah melamar ke sana, tapi situasi dan kondisinya tidak seperti yang umum kita temui. Setiap guru baru, yang akan menjajal kemampuannya untuk pertama kalinya pasti berharap siang dan malam mendapatkan sekolah yang favorit. Di mana anak-anaknya mudah diatur dan mudah mencerna pelajaran, sistem sekolah sudah OK sehingga tinggal ikut  jalur, fasilitas lengkap dan berbagai kemudahan lainnya (ini menurut saya ya). 

Unfortunately (atau fortunately ya?), saya mendapat tawaran mengajar di sebuah sekolah swasta berbasis agama tidak jauh dari rumah. I'm so grateful, I do. Karena saya dipercaya. Tapi setelah masuk sekolah selama dua hari, terbayang lah semua hal yang mesti dikejar, yang mesti dicapai, dengan fasilitas minim. Walaupun sekolah ini adalah sekolah swasta dan berdiri di bawah yayasan yang cukup besar namun keadaannya cukup memprihatinkan. Meski pernah melahirkan tokoh-tokoh agama dan politik terkenal (baik tingkat daerah maupun nasional) sekarang sekolah ini seperti kehilangan tenaga. Saking tua nya mungkin. Dan di situ lah saya akan berjibaku. Mengajar murid-murid pria ber peci dan murid wanita yang malu-malu.

Mungkin memang ini lah saatnya membuktikan kemampuan, di tempat yang benar-benar membutuhkan. Mempraktekkan segala ilmu, di tempat yang benar-benar kekurangan. Mungkin juga semua ini kedengaran lebay, tapi herannya bercampur dengan semangat, penasaran. Yeah, my weird side is difficult to get rid off :)

Sunday, December 11, 2011