Monday, February 20, 2012

Wanita dan Pria

Saya baru saja menonton tayangan di youtube, acara standup comedy di mana comicnya salah satu blogger favorit saya, teh Miund. Orangnya lucu, pintar, dan sangat to the point tapi tidak bikin sakit hati karena mostly yang dikatakannya benar. Pada kesempatan itu, dia berbicara (dengan konsep komedi tentunya) bagaimana ruwetnya komunikasi antara pria dan wanita. Bagaiman pria bingung dengan keharusan membaca pikiran wanita sementara si wanita justru sebenarnya lebih bingung mengerti pikiran dan kemauannya sendiri. Tapi, mungkin ini lah seninya hubungan pria dan wanita, mesti ada perang batin dengan pasangan atau diri sendiri :D

Miund mencontohkan, ketika wanita meminta pendapat tentang sepatu yang akan dibeli kepada si pria, tapi si pria malah takut berpendapat karena (katanya) wanita tidak akan puas dengan pendapat mereka. Padahal, kadang kita memang benar-benar bingung saudara-saudara pria ku! Dan walaupun kita seringnya membantah, tapi sedikit banyaknya pendapat para pria-pria malang ini (yang sudah kasih saran masih saja menerima muka cemberut) tetap kita pertimbangkan kok! Kenapa?? Karena, secara sadar atau tidak, si wanita akan mempertimbangkan suka atau tidaknya si pria dengan apa yang akan dikenakannya. Am I right ladies?? 

Namun lucunya, menurut pria (dalam survey tidak resmi saya) they don't really care about your look as long as you don't wear a pajamas to go out!!! Mereka bahkan tidak mengerti tentang tren baju wanita (apalagi yang aneh-aneh menurut mereka)!! What they want is you feel comfort with anything you wear. Jadi ketika jalan tidak perlu cek dandanan berkali-kali, tidak mengeluh kaki sakit karena hak tinggi. Comfort, is the most important!!
Karena itu, marilah saudari-saudari ku, kita mungkin bisa lebih bijak dalam berpikir (baca: bawa teman wanita ketika belanja, jangan pasangan).
Dan kepada saudara-saudara ku, berikanlah pendapat yang fair, karena apapun itu yang akan terlontar, we will always love you. Apalagi kalau dibayarin,huahahahahahahaha.

Tuesday, February 7, 2012

Ibu

Ibu saya (saya panggil ama) sangat suka menelpon. Sangat amat suka. Dalam seharian, hp tidak pernah lepas dari tangan. Siapa saja yang ditelpon? Bukan klien bisnis saudara-saudara, melainkan hanya keluarga dan teman-teman. Yeah, my mom reeaaalllyyy loves to talk. Dan sebagai anak sulung, saya lah yang paling sering mendapat panggilan dibandingkan adik saya satu-satunya. Selain karena dia paling malas menjawab telpon, sepertinya ama menganggap si adik bukanlah lawan bicara yang asik. Beda kalau dengan saya, ama bisa curhat apa saja, saya pun begitu. Saking seringnya saya ditelpon ("sering" ini menurut teman-teman ya), ketika masih kuliah di Padang, teman-teman akan bertanya "ama belum nelpon?" jika melihat saya tidak mengangkat telpon hari itu. Kebiasaan ini membuat saya tidak bisa menyembunyikan apapun dari orang tua. Mulai dari masalah air mati di kosan, sampai berantem dengan pacar atau baru saja beli underwear baru (sumpah, saya memang nggak jelas gitu :D ). Si ama pun begitu. Pulang sekolah laporan siapa aja muridnya yang bandel, temennya yang bikin sakit hati (ujung-ujungnya gosip kalau begini) atau sekedar laporan hari itu capek masak jadi mau beli makanan di luar. Yeah, we are that kind of (I don't know hot to call it,hahahaha). What I know, I can't hide anything from that powerful, wonderful lady.

Dan ketika saya menyimak kasus tabrakan tugu tani, saya tiba-tiba merasa, entah lah, mungkin miris tepatnya. Dalam salah satu wawancara dengan tabloid, si ibu dari tersangka Apriani menyatakan ketidak percayaannya kalau si anak mengkonsumsi narkoba. Dia pun membantah kalau anaknya suka hura-hura. Saya memang tidak tau yang sebenarnya, apakah si ibu tau yang sebenarnya atau memang tidak sama sekali. Kalaupun tau, saya maklum kenapa dia berbuat begitu, seorang ibu pasti ingin melindungi anaknya. Tapi seumpamanya si ibu memang tidak tau sama sekali, alangkah besarnya penipuan yang telah dialami oleh si ibu. Karena menurutnya, si anak selama di rumah tidak sekalipun melakukan perbuatan tercela. Bahkan tergolong alim. Saya tidak ingin berburuk sangka, hanya tidak sampai hati melihat penderitaan yang ditanggung si ibu. Anak di penjara (karena menghilangkan banyak nyawa), masyarakat menghujat, lalu mestikah ditambah dengan kenyataan baru bahwa si anak pecandu narkoba?? 

Saya bukan pula seorang anak yang tanpa cela. Saya pernah mengecewakan orang tua. Tapi dengan berterus terang pada orang tua, saya jadi bisa memahami kesalahan yang telah diperbuat. Menyembunyikan dari orang tua (terutama ibu karena beliau yang paling dekat dengan saya) justru membuat runyam masalah. Kita boleh saja merasa cuek, tidak peduli dengan anggapan orang, tapi ingat lah kita punya orang tua. Yang karena tua nya, cueknya tidak lagi setebal kita yang muda, telinga nya tidak lagi se "tuli" kita. Dan ingat, kita adalah cerminnya!!