Happy new yeaaaarr :) Telat banget ya, tapi nggak pa pa lagi, kan masih Januari,hihihi. Sudah bikin resolusi? Pastinya! Walau selalu saja tidak berjalan lebih dari 30% setiap tahunnya, yang penting usaha :D
Saya nggak akan bahas tentang resolusi kok, karena percayalah kita akan lebih senang membahasnya di akhir tahun ketika kita sudah bisa memastikan apakah berjalan atau tidak sama sekali. Trust me people :)
Nah, yang akan menjadi topik kita kali ini adalah liburan tahun barunya, terutama acara malam tahun baru. Jujur nih ya, pergantian tahun masehi 2011 ke 2012 kemarin merupakan kali pertamanya saya ikutan yang namanya malam tahun baruan (yeah..yeah..I'm that kind of girl,hahahahaha). Kalau ada yang bertanya-tanya kenapa, akan saya terangkan, nggak enak kalau kamu-kamu jadi penasaran (sapa saya coba???silahkan hoek bersama-sama sodara2,hahahaha).
Penyebab pertama, saya lahir dan dibesarkan di daerah kampung, in literal meaning, di mana tidak ada yang namanya pesta tahun baruan. Paling banter adanya abege2 cowok yang begadang sambil bakar ban bekas dan nyanyi2 nggak karuan sampai pagi. Dan pastinya saya nggak mau (kalaupun mau nggak akan boleh) ikut dalam acara para pecandu rokok kelas pemula itu. Selain harus melawan udara dingin daerah kab.50 kota yang terkenal ampuh bikin orang masuk angin, acaranya juga tidak menarik bin meyakinkan. Jadi masa remaja (smp-sma) saya lewati tanpa acara gituan (dilarang ngeres!!)
Lalu apa kabar dengan masa kuliah?? Nggak beda jauh. Libur tahun baru kan tanggal merah tuh,jadi acara saya adalah : Pulang Kampung :D Sebagai mahasiswa yang sangat cinta kampung halaman, nggak bisa melihat tanggal merah di kalender, rencana cuma satu, ya pulang kampung.
Setelah merenungkan mirisnya pengalaman saya tentang malam tahun baru, maka pada saat akan datangnya pergantian tahun 2011 ke 2012 saya setuju diajak si pacar untuk mencoba sebuah pengalaman baru : melihat perayaan malam tahun baru. So, the journey began. Hal yang pertama ditemui tentunya, macet! Masih bisa dimaklumi, karena yang ada di kota Padang saat itu bukan cuma warga kota tapi banyak juga yang berdatangan dari luar kota, bahkan provinsi tetangga. Lalu, setelah memilah-milah jalan yang sedikit macetnya (usaha yang nyaris sia-sia) kita terbawa arus menuju arah pantai padang melewati jalan Hayam Wuruk (yang orang Padang pasti tau). Sampai di sini, kita akhirnya stuck, tidak bisa jalan sama sekali. Akhirnya kita putuskan, we're going to take a walk! And that's when the fun begin!
Kenapa jalan kaki saja bisa jadi sebegitu heboh seperti ini?? Well, simpel saja, sudah lama tidak jalan kaki. Dan ketika hal ini dirutinkan lagi, rasanya enak banget (duh, agak susah sih dijelaskan pakai kata-kata). Karena begini, kalau dulu ada pendapat kalau pejalan kaki merasa tidak nyaman berjalan di jalan raya karena banyaknya kendaraan, maka pendapat saya sudah berubah tentang hal ini. Yang tidak nyaman di jalan sekarang ini adalah pengendara kendaraan bermotor itu sendiri. Lihat saja betapa banyaknya kendaraan di jalanan kita saat ini, bahkan di jalan di kampung saya, sungguh padat saudara-saudara. Jadi ketika kita di jalanan, dan membawa kendaraan tentunya, kita akan stress sendiri menjaga keselamatan. Berbeda dengan saat kita berjalan kaki. Walaupun kebanyakan trotoar tidak lagi berfungsi semestinya, masih ada jalan-jalan pintas yang bisa kita temui agar terhindar dari buasnya jalanan.
Back to our story, kita pun akhirnya memutuskan jalan kaki. Dengan makin padatnya jalanan -karena sudah lewat jam 10 malam- semua kendaraan akhirnya benar-benar merayap. Tapi kita tetap melaju kencang, dengan kaki :D
Dan karena kaki bisa disetir lebih leluasa, kita juga bisa memilih-milih sambil jalan mau ke arah mana. Mau belok, ya tinggal belok aja. Mau parkir, ya tinggal berhenti sejenak. Akhirnya diputuskan menuju Taman Budaya karena di situ banyak acara yang bisa dinikmati. Dan malam itu, jalanan di sepanjang pantai Padang benar-benar memanjakan pejalan kaki karena jalannya ditutup untuk kendaraan bermotor. Jalan dengan dua jalur tersebut bersih dari kendaraan dan asapnya, jadi pengunjung bisa berjalan-jalan santai. It's a new experience to me, and it definitely great! Saya juga langsung jatuh cinta dengan suasananya. Jalanan yang luas, kiri kanan ada trotoar yang bisa dipakai, tidak ada kendaraan, pemandangan laut. Mungkin kalau siang hari akan terlihat seperti pantai-pantai di luar negeri, tempat joging bule-bule sekseh,hahaha.
Tapi suasana malam itu nggak kalah romantis. Dengan adanya lampu jalan, jalan-jalan santai sambil menikmati hembusan angin laut, serasa di mana gitu,hahahaha
Lalu sampai lah di tempat acara (dengan keringat yang lumayan :D )
Setelah menikmati beberapa acara dan si pacar ambil foto-foto, kita memutuskan pulang. Selain desakan perut yang juga mulai semangat meniup terompet, kita juga berkeputusan menghindari keramaian puncak jam 12 malam. Kalau ada yang mencari orang yang males dengan keramaian pada puncak tahun baru tapi nekat keluar malam itu kita lah orangnya xD
Karena sudah memprediksikan keramaian yang akan timbul saat arus balik, kita memutuskan untuk melewatkan acara kembang apinya, dan balik kanan pulang, yang penting sudah tau suasana malam tahun baru ala kota,walaupun kota kecil,hahaha
Kita juga sudah cukup puas jalan-jalan dengan suasana romantis, jadi dampak LDR nya sudah lumayan berkurang (curhat..curhaaaat).
Dan malam itu ditutup dengan pesta kembang api yang ternyata masih tetap bisa dinikmati di Siteba saat beli kacang goreng di mini market :)
Happy New Yeaaarrr!! Let's Get Better People :)
No comments:
Post a Comment